Mahfud Aly

Lelaki terkombang-kambing tulisan. ...

Selengkapnya
Deg-degan di Terawih Pertama

Deg-degan di Terawih Pertama

Mahfud Aly [bukan Mahfud MD]

Lelaki yang terkombang-kambing tulisan

*******

Terawih dan puasa pertama adalah seperti pasangan kekasih yang lagi sayang-sayangnya.

Eaaa!

Terawih pertama masjid tumpah-ruah. Luar biasa. Saya pun begitu gegap gempita. Adik Rizwan ikut Ayah. Mbak Fira ikut Bunda. Itu jadwalnya. Itu kesepakatannya.

Saya dan adik Rizwan ke masjid. Masjid penuh. Kami dapat shaff di tengah. Dekat jendela. Sebelum masuk masjid, saya sudah komunikasi dengan Adik tentang adab masuk masjid.

Semua clear. Ia begitu serius ikut shalat tahiyatul masjid. Shalat kabliyah. Isya empat rakaat. Bakdiyah. Semua aman.

Terawih pun berjalan nyaman. Ia sudah hapal doa dan gerakan shalat mendekati sempurna. Meskipun umurnya baru tiga tahun. Ia pembelajar yang tangguh. Ia penghafal yang lumayan.

Tiba tarawih ketujuh dan delapan. Mulai kisruh. Karena saya pilih dekat jendela. Rizwan mulai jenuh. Dia mulai kreatif. Dia masukkan tangan ke jendela kaca. Ada besi yang bisa memutar.

Dia mainkan tangannya. Dia putar besi sekuat tenaga. Bunyi kriet-kriet nyaring. Memantul ke kubah. Bergema merdu.

Ajur Jum!

Rakaat ketujuh-kedelapan, saya ketar-ketir.

Selesai salam, saya cium Rizwan. Saya sungkem tangannya. Saya bisiki.

"Ayo kita keluar, Sayang."

"Maafin Adik, Ayah."

Wajahnya memelas. Manis sekali.

*****

Saya keukeh merapikan dua sajadah. Saya gendong Rizwan. Saya beranjak keluar, melewati para jamaah.

"Permisi! Permisi!"

****

Saya pilih duduk di depan pintu utara. Serambi depan masjid Bukan pintu utama. Di luar ruang utama masjid. Rakaat berjalan nyaman.

Karena banyak jamaah yang telat datang. Lalu lalang orang cukup ramai.

Sebagai anak yang berjiwa sosial, ramah, dan punya banyak kenalan.

Rizwan bikin ketar-ketir lagi.

Dia menyapa setiap orang yang baru datang. Seolah dia sedang absen nama semua orang.

Yaaak Ruuuul!

Bapak Masykur.

Sakaaaa! Lapo awakmu di situ.

Yaak Roniii.

Bapaak Nasiiir.

Pakde.

Bapak.

Yak.

Ayah, ada Mbahnya Rania.

Semua diabsen.

Awalnya, suara kecil. Tetapi saat yang disapa tak menyahut, suaranya tambah kenceng.

Selesai rakaat sepuluh. Saya peluk dia. Saya bisiki aturan main yang disepakati.

Ia sangat menyesal.

"Maafin Adik. Ayah."

Manis sekali.

*****

Saya tetap pasang wajah datar. Meski hati ini kebat-kebit. Deg-degan. Sungguh, saya tidak marah padanya. Saya sebagai orang tuanya yang harus ditatar P4 lagi.

"Dik, ayo pindah ke serambi samping!"

Saya racuti sajadah, saya gendong dia menuju serambi samping utara yang lengang.

Takbiratul ihram aman jaya. Rakaat kedua, suasana mendadak petjaaah!

Rahmat, yang sejatinya bersama Uthi-nya di lantai atas, bersama para jamaah perempuan lainnya, tiba-tiba turun ke lantai satu.

"Rizwaaan!"

"Mamaaat!"

Suaranya seperti kawan SD setelah 30 tahun tak bertemu.

Hihihi!

Tiba-tiba Saka, ikut nimbrung. Bertiga mereka heboh. Ngobrol seperti obrolan warung kopi.

Putra Cak Salman, saya tak tahu namanya ikutan.

Empat sekawan. Masjid itu harus diramaikan. Benar. Cukup mereka berempat masjid ramai dan luar biasa mantul.

Rahmat dan Saka main peran jadi siluman harimau.

Adik Rizwan kebagian peran penakut. Lari tunggang-langgang.

Dia teriak-teriak ketakutan.

"Aummm!"

"Jangan Mamaat!"

"Hwaaa!"

"Jangan Sakaaa!"

"Hwaaa!"

"Adik takuuut, Mamaat."

"Hwaaa!"

"Sakaaaa! Jangannn!"

Joss!

Rakaat limabelas-enambelas.

Kisruh saudara-saudara.

"Bapake arek-arek Iki ning endi?"

****

Kisruh ini belum selesai. Baru separuh.

Saya dengarsuara ajakan yang sangat berat untuk dilewatkan.

Mereka bermufakat jahat.

"Ayo kejar-kejaran!"

Jedueeeer!

Begitu salam, saya tangkap Adik Rizwan. Saya gendong.

"Dik, ayo pulang!"

*******

Saat di perjalanan pulang, dia katakan pertobatannya. Dia sangat menyesal. Meminta maaf berkali-kali. Ia sungguh tak ingin membuat keonaran.

"Maafin Adik, Ayah."

"Adik salah."

"Maafin Adik, Ayah."

"Adik salah."

"Adik tak ulang lagi."

"Adik janji."

"Masjid cuma untuk ngaji dan Allah (shalat)."

"Maafin Adik."

"Adik janji."

"Adik tak nakal."

Manis sekali.

Emmuah!

Tinaro, 5 Mei 2019

Saya akan tetap ajak dia ke masjid. Tentang adabnya yang masih belum sesuai. Itu tugas saya. Kesalahan saya sebagai orang tuanya. Saya akan bergegas. Mohon doanya.

Adik ikut kenduri megengan di Musala Kiai Mahmud

Namanya Rizwan Rasheed Muhammad.

Kami memohon maaf atas banyak dosa dan salah. Kami cuma keluarga remekan rengginang. Barakallah!

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

masjid ramah anak perlu dibahas bersama takmir masjid Jika anak-anak dihardik maka ia akan merasa tidak nyaman berada di masjid. Tetapi jg perlu siberi pengertian berulang-ulang utk bs menjaga ketenangan ibadah. Tetap bersabar dan semangat pak!

08 May
Balas

Barakallah. Bunda. Terima kasih. Salam sejahtera. Sehat selalu

09 May

Sungguh menegangkan itu, Pak.

08 May
Balas

Pol.

08 May

SEUSIA Sdh bagus....... Datang levih awal. Mukena pertama yg dimiliki. Baru lagi.........masih sholat isak. Sudah minta pangku.....mulai taraweh. "Muleh.....buk" Ini taraweh tercepat jadinya.

06 May
Balas

Iya, pengalaman ini milik kita bersama. Semoga sua jamaah masjid ramah anak semua. Barakallah

06 May

Jadi keringat kelakuan bunda waktu kecil ha,.ha, subhanallah, baru 3 tahun agamanya sudah begitu bagus. Selamat utk Ayah dan Ibunya

06 May
Balas

Barakallah Mohon bimbingannya.bismillah

06 May

Meski deg-degan, Rizwan Rasheed Muhammad harus terus diajak ke masjid. Alah bisa karena biasa. Pada saatnya, ia akan mengerti bagaimana bersikap di masjid yang sesungguhnya. Ayah yang harus sabar, nggih. Sun sayang Uthi buat Rizwan. Salam sehat, bahagia, dan sukses selalu. Barakallah.

05 May
Balas

Siap. Uthi. Insyaallah. Barakallah. Jika ada yang kurang tepat, Ananda siap dijewer.

05 May

Mantap ,.. saya sangat setuju, anak anak harus dibiasakan ke mesjid,... Walau mesti penyesuaian terlebih dahulu, tapi kita orang tua tak boleh menyerah... Semangat Pak Mahfud... Barakallah

10 May
Balas

Barakallah. Terima kasih bunda

10 May

Hampir di semua masjid seperti itu Pak, harus ekstra sabar, ini pembelajaran untuk anak-anak, memang harus dimulai sedari kecil, kalau sudah besar akan semakin sulit untuk diarahkan, sehat selalu Pak, Barakallah

08 May
Balas

Terima kasih. Bundo. Jika salah, saya siap jewer

08 May

Ayah yang hebat. Nggak marah liat anaknya brisik pas orang shalat. Ayah yang hebat. Tetap akan bawa Rizwan yang ganteng untuk shalat ke mesjid Rizwan anak kreatif dan hebat. Minta maaf sama ayahnya. Sehat selalu ya nak.

08 May
Balas

Barakallah. Bunda. Love you

09 May

Itulah anak-anak... asyiknya tuh di situ... barakallah pak, sukses selalu.

06 May
Balas

Terima kasih. Barakallah. Bunda Noor

06 May

Ayah yg supersabar....

08 May
Balas

Mbetahke. Hihihi

08 May

Tulisan yang menggelitik, namanya juga anak-anak. Adik janji nggak nakal lagi, jika sampai adik nakal lagi..... Adik janji lagi...hi hi hi....

06 May
Balas

Adik janji.terima kasih pak Sabar. Barakallah

06 May

Jgn lelah utk trs mengenalkan mesjid padanya mas.. krn saat mesjid lengang oleh mereka.. itu pertanda keruntuhan agama..

08 May
Balas

Sigap. Bunda cetar.

08 May

MasyaaAllah. Sebuah pembelajaran yang bagus. Semoga jafi anak sholeh Rizwan, anak sholehah Fika. Ayah dan Ibunya hebat. Barakallah.

06 May
Balas

Terima kasih bunda. Barakallah. Barakallah.

06 May

Terima kasih bunda. Barakallah. Barakallah.

06 May

Tidak apa2 pak... Namanya bocah. Bahagia pergi ke mesjid itu sudah nilai tersendiri dalam mendidiknya mencintai masjid.

06 May
Balas

Terima kasih atas dukungannya. Bunda penulis yang memiliki ciri khas dalam tulisannya. Barakallah

06 May

Dunia anak anak... Membangkitkan kenangan masa kecil kita nich pak.... Tapi biarkan anak anak dengan dunianya meski di mesjid. Ada hadis yang menyebutkan kalau anak-anak anak adalah malaikatnya mesjid Luv u dedek, tetap bahagia ya dek, ayah nggak marah kok..

06 May
Balas

Barakallah. terima kasih semangatnya Bunda. Barakallah

06 May

Adik Ridwan ganteng smart like His father hehe. Sehat selalu pak. Barakallah

05 May
Balas

Aamiin. Barakallah

05 May

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali