Mahfud Aly

Lelaki terkombang-kambing tulisan. ...

Selengkapnya
EDITOR RASA BARU: MENYUNTING TAKDIR

EDITOR RASA BARU: MENYUNTING TAKDIR

Pagi ini perut saya mules. Mual. Bukan karena sakit perut, tapi ada banyak kupu-kupu penuhi rongga dada saya. Akibat tulisan Dahlan Iskan. Biasanya selepas Subuh, saya rutin membaca disway. Catatan Dahlan Iskan. Namun saya jarang berani menulis tentangnya. Atau mengulas pun tiada daya. Dahlan Iskan adalah contoh manusia yang menulis untuk istikamah. Apapun ia tulis menjadi sesuatu yang indah dan berbeda.

Pagi ini, judulnya Lulu dan Nana.

Fokusnya pada editor. Bukan editor biasa. Atau editor buku mbencekna seperti saya. Bukan. Editor ini seorang peneliti. Namanya He Jian Kui. 34 tahun usianya. Ia peneliti. Menjadi peneliti tidak dosa. Hanya apa yang diteliti Kui sedang ramai di dunia riset. Di Indonesia memang tak ramai. Tak seperti kisah siswa dari kota tempat saya bekerja, Gresik. Ada siswa yang menjadi jagoan. Mengajak duel. Gurunya mengalah entah kalah. Kemudian ia menangis di polsek Wringinanom meminta maaf. Selesaikah proses hukumnya? Patut ditunggu.

Sebagai research anthusiast, saya tertarik. Sebagai muslim, saya ketar-ketir. Ah, saya harus ajukan ini pada Bahtsul Masail kawan Nahdlatul Ulama mengenai status hukumnya. Ah, inilah yang membuat perut saya sakit. Ada dua perasaan yang berlawanan dalam hati dan pikiran saya. Ini sungguh tak mudah.

He Jian Kie saat ini tak diketahui rimbanya. Ia menjadi buruan pihak terkait. Risetnya menjadi kontroversi. Ia telah berhasil mengedit nasib buruk manusia. Ia mengedit sisi buruk manusia. Dua anak kembar: Lulu dan Nana. Bayi ini adalah hasil program bayi tabung dengan manipulasi gen. Mereka telah diedit gen pembawa keburukan: penyakit bawaan, risiko cacat, kecerdasan, dan segala bentuk kekurangan. Akankah mereka jadi ras manusia super? Menarik untuk diikuti.

Saya akan ikuti perkembangannya, via komunitas riset saya. Ini justru lebih heboh dari sekadar bayi tabung. Saya akui He Jian Kie sangat pintar, dan liar. Ia juga didukung dana riset hampir tak terbatas. Indonesia memiliki banyak periset tangguh, namun sayang dana cupet, kembang kempis. Napasnya Senin-Kamis. Itulah kenapa riset Indonesia ya begitu-begitu saja. Kalah dari Thailand dan Vietnam. Lupakan Singapura dan Malaysia. Mereka sudah mengangkasa. Sementara kita baru berpikir merancang pesawat. Ea! Ea! Ea!

Ah, sudahlah.

Silahkan baca tulisan Dahlan Iskan saja. Maaf, Bos, saya tak kuasa menahan diri mengulas tulisanmu. Ini untuk pertama kalinya, dan semoga yang terakhir kalinya. itu saja.

Tulisan ini harusnya tayang tadi pagi, tapi karena ada satu hal dan lainnya, batal tayang. Maafkan saya. Jarak planet saya dan bumi lumayan jauh. Ea-kanlah!

Tinaro, 11 Februari 2019

Lulu dan Nana

11 February 2019

Oleh : Dahlan Iskan

Doktor peneliti ini dipecat dari universitasnya. Yang ia teliti memang super sensitif. Dan pertama di dunia: mengedit gen calon manusia.


Tujuannya baik: agar saat dilahirkan bayi manusia itu sehat. Tidak membawa warisan penyakit apa pun. Benih-benih penyakit dipotong. Yang ada di gen calon bayi itu. Gennya diedit. Dibuang yang jelek. Dipilih yang baik-baik saja. Baru dijadikan bayi.


Dari ujicoba ini akan lahir generasi unggul: sehat, pintar, panjang umur.
Saya terus mengikuti perkembangan uji coba itu. Sebagai orang yang sudah lebih 8 kali melakukan stem cell saya sangat tertarik padanya.


Apalagi tahap uji coba ini sudah amat jauh. Bahkan bayinya sudah lahir. Kembar.
Karena itu sang peneliti sudah berani mengumumkan hasilnya.
Heboh.
Pro-kontra mendunia.
Peneliti itu menjadi sangat terkenal.


Namanya: He Jian Kui. Umur 34 tahun.


Universitasnya: Southern University of Science and Technology. Di kota Shenzhen. Tidak jauh dari perbatasan Hong Kong. Kalau Anda naik mobil dari Hong Kong ke Shenzhen akan lewat dekat universitas ini.


He Jian Kui lahir di Xinhua, Hunan. Menjadi sarjana di universitas tersebut. Di bidang fisika biologi. Lalu meraih gelar doktor (PhD) di Texas, Amerika Serikat. Di sebuah universitas riset di Houston. Di bawah asuhan Profesor Michael W. Deem.


Nama kampusnya: Rice University. Tapi tidak ada hubungannya dengan pengembangan padi. Atau beras. Itu nama belakang pengusaha besar real estate. Yang meninggal bersama cita-citanya: menyerahkan seluruh hartanya untuk mendirikan universitas riset.


Tapi, Rice meninggal terlalu cepat. Tanpa istri dan anak. Pembantunya yang menemukannya. Sudah dalam keadaan meninggal di tempat tidurnya. Pagi hari. September tahun 1900.


Penyebabnya juga terlalu cepat terungkap: dibunuh. Umur 84 tahun. Oleh pembantunya itu. Dengan menghirupkan kimia di saat tidurnya. Ada orang yang menyuruhnya: orang New York. Pengacara pribadinya.


Ketahuannya sepele: tidak lama setelah Rice meninggal si pengacara mencairkan cek. Dalam jumlah yang amat-amat besar.


Bank curiga. Ada kesalahan dalam menuliskan nama.
Ternyata sang pengacara memalsukan pula wasiat warisnya. Untuk dirinya.


Akhirnya semua warisan itu untuk mendirikan universitas tersebut. Dengan kekhususan sebagai universitas riset. Yang kini terunggul di dunia. Di bidang nano, ruang angkasa, gen, jantung buatan, dan banyak lagi.


Salah satu wasiat Rice dulu: Universitas itu hanya boleh menerima mahasiswa kulit putih.
100 tahun kemudian He Jian Kui diterima di situ.


Setelah meraih doktor He Jian Kui bekerja di Stanford University. Tidak jauh dari San Fransisco.
Saat itu Tiongkok mulai meluncurkan program "seribu bakat pulang kampung". Ahli-ahli di berbagai bidang ditawari pulang. Dengan banyak insentif. Bukan hanya gaji dan fasilitas. Pun termasuk dibangunkan lab yang mereka inginkan.


Juga diberi modal Rp 2 miliar. Untuk memulai usaha. Berdasar hasil risetnya.
He Jian Kui ikut program itu. Kembali ke almamaternya. Yang di Shenzhen itu.
Di situlah He Jian Kui memulai langkahnya: jadi editor gen manusia.


Ia sudah menguasai masalah biologi. Sel. Gen. Dan sifat-sifatnya. Juga sudah mengetahui mengapa orang kena penyakit. Mengapa orang bisa gila. Mengapa orang bisa jadi laki-laki. Atau jadi perempuan. Atau jadi setengah-setengah.


He Jian Kui akan memisah-misahkan sel itu. Yang mengandung unsur-unsur negatif dipotong. Atau dibuang.


Ia bekerjasama dengan organisasi sosial. Terutama penolong penderita HIV/AIDS. Yang beroperasi di Beijing.


Ia minta pada penderita itu: untuk mau jadi obyek penelitiannya. Agar tetap bisa punya anak yang tidak mewarisi penyakit orang tuanya.


Delapan orang ingin mencobanya. Salah satunya suami-isteri. Yang suami penderita HIV. Sang istri masih bersih. Sperma dari pasangan ini diambil. Dimasukkan laboratorium. Gennya diedit. Lalu dimasukkan rahim sang istri.


Anak itu lahir 8 Nopember lalu. Kembar. Diberi nama Lulu dan Nana.
Tidak diumumkan nama orang tuanya. Dalam publikasi ilmiah He Jian Kui hanya disebut Mark dan Grace.


He Jian Kui sengaja mendaftarkan percobaan kliniknya itu. Di Tiongkok memang ada peraturan. Semua percobaan klinis harus didaftarkan. Di lembaga pendaftaran uji coba klinis.


Tapi tidak ada yang bereaksi di tahap itu. Serangan pada He baru dimulai saat naskah ilmiahnya dipublikasikan di MIT Tech Review.


Lebih heboh lagi saat ia membeberkannya di Gen Editing Summit di Hongkong. Tanggal 27 Nopember lalu. Lengkap dengan videonya.


Dunia ilmu pengetahuan gempar. Inilah pertama di dunia. Ada ahli yang melakukan editing pada gen calon manusia.


He dianggap melanggar semua prinsip ilmu pengetahuan. Terutama etikanya. Yang utama: tidak pernah ia adakan diskusi umum lebih dulu.


Kini He Jian Kui entah di mana. Di universitasnya sudah tidak ada. Ia diperiksa berbagai otoritas di Tiongkok. Entah apakah juga ditahan.


Bayi kembarnya dinyatakan baik-baik saja. Di bawah asuhan khusus yang rahasia.
Manusia akan memasuki babak kehidupan barunya. (dahlan iskan)

https://www.disway.id/r/358/lulu-dan-nana#

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Wah.....bukannya Allah editor terbaik? Ups maaf hihihihi

11 Feb
Balas

We know. God is an editor. God Is a creator. Gos is a director. Allah is our everything. Bunda Lestari Ambar. Salam Ea!

11 Feb

Yes so true...all is His secret. The one we have to do is just to believe in Him. Ah just remember wht my OZ friend ever said. He is the center of th universe.

11 Feb

I am a researcher. I see using different point of view. Mom I am Muslim. I do what to do.

11 Feb

Luar biasa tulisannya pak...Ya Allah...seperti di film ultra men, lama-lama kisah film itu bisa menjadi kenyataan dengan rekayasa gen

11 Feb
Balas

It's my life. Research makes me live longer. Rekayasa genetika sudah berkembang luar biasa. Jika saja Bunda sedia belajar topik ini. Merinding disko.

11 Feb

MasyaAllah.. Tulisan keren dengan isi yang informatif.. Jadi teringat tentang pembuatan gen sapi betina merah juga.. Pernah baca katanya sudah hampir berhasil atau malah sudah berhasil.. Pengetahuan ini menakjubkan.. Tp kok sy malah takut ya.. Krn rasanya Kiamat sudah dekat..

11 Feb
Balas

Tak mungkin diundur. Bunda. Barakallah.

11 Feb

Waw, keren Pak, aku tersenyum sendiri, memang perlu kita menulis judul yang membuat orang penasaran untuk membaca.

12 Feb
Balas

Barakallah. Bunda Syofni. Selamat menikmati

12 Feb

Renyah banget tulisannya

11 Feb
Balas

Ih, ada penulis keren. Jadi malu saya. Barakallah. Bunda Yuniza

11 Feb

Spechless saya! Dunno what to say! Barakallah pak Ea!

11 Feb
Balas

Barakallah. Bunda. Fera Susanti. How are you? Long time no see.

11 Feb

Alhamdulillah, I'm fine, thank you Sir, hope you too. Paket data seret and sekarat pak, wifi acakadul, so I can't visit Gurusiana so often. Poor me hihi

11 Feb

Persaingan terselubung yg menyingkirkan He. Kebayang kalau nggak ada orang sakit. Manusia mati disebab tua. Alami. Dampaknya gegap gempita, rumah sakit gulung tikar, profesi dokter gulung koming, dan bla bla bla.... Sedikit njepret dari sisi berbeda. Salam takzim Cak Mahfud

12 Feb
Balas

Ah, benar Pak Arif. Akal tanpa iman akan salah jalan. Bismillah.

12 Feb

excellent......good job sir....

11 Feb
Balas

Barakallah Bunda Asri. Maaf. Saya mau baca ulang kiriman cerpen Bunda. Terima kasih

11 Feb

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali