Mahfud Aly

Lelaki terkombang-kambing tulisan. ...

Selengkapnya
Genderuwo Juangkrek
Masih gemetaran

Genderuwo Juangkrek

Mahfud Aly

Lelaki yang terkombang-kambing oleh genderuwo

******

Sumpah. Saya malas menulis ini. Topik yang sudah lama saya lupakan. Masa lalu saya agak konyol. Terlebih terkait makhluk halus. Sungguh!

Saya masih ingat pernah mengundang makhluk halus ke dalam tubuh seorang mediator hanya untuk tahu sejarah masa lalu pesantren saya dulu.

Lima remaja tanggung. Ngguapleki. Nekat. Di kamar Aljadid 02. Praktik menantang bahaya itu dilakukan. Sukses besar. Meski trauma itu tetap membekas. Hingga kini.

Lima remaja itu kini sudah dewasa. Satu jadi pejabat. Satu jadi paranormal. Satu jadi pengusaha. Satu jadi ayah. Satu terakhir jadi remekan rengginang.

Ngguateli.

Malam ini kisah itu terulang.

Ramadhan malam kesebelas. Setelah jadi imam di Musala, saya ikut rapat terbatas Ansor. Agenda rapat membahas lomba, bagi takjil, bukber, hatmil Alquran, dan pengajian umum Nuzulul Alquran. Rencananya malam 25. Semua beres. Pukul 22.00 saya pulang.

Karena tugas banyak. Saya putuskan untuk cari suasana damai. Ngedit beberapa naskah. Saya pilih mencari warkop ujung desa. Lumayan ganti suasana.

Setelah selesai satu naskah. Saya fokus membuat sinopsis buku yang baru masuk. Pukul 23.34 tetiba dari arah pagar tembok setinggi dua setengah meter di belakang warkop. Terbanglah sesosok tubuh dengan gerakan melayang. Mendarat di tanah dengan mudah. Lalu berlari cepat melewati depanku.

Mak jedueer!

Kecepatan dan gaya terbangnya bukan khas manusia. Luar biasa cepat.

Pukul 23.00 warkop tutup.

Saya tak sendiri. Ada lima pemuda lain sedang asyik dengan kegiatannya. Sebagian besar main game online.

Semua saling pandang. Mengkirik.

Berr!

Merinding.

Saya beri satu fakta. Pemilik warung adalah tokoh masyarakat. Orang pintar. Guru ilmu Kanuragan. Tabib, dan membuka praktik pengobatan tradisional.

Sesosok tubuh tadi seolah diburu sesuatu. Saya sendiri tak tahu.

Ia minta sua pemilik rumah.

Sayang, rumah sudah tertutup semua.

Satu pemuda, sebut saja F mencoba menjelaskan. Tapi gagal.

Sesosok tubuh, yang kemudian dikenali sebagai Uprit (bukan nama sebenarnya) marah. Ia terburu. Ketakutan. Separuh sadar. Selebihnya kesurupan.

Korbannya adalah pintu.

Pintu itu ditendang dengan enam tendangan.

Jebol saudara-saudara.

Tamat.

Hancur lebur.

Begitu pintu jebol, ia teriak-teriak seolah ketakutan. Memanggil pemilik rumah. Teriak-teriak tak jelas. Menangis, tertawa, dan menjerit. Seram.

Ia masuk menerobos pintu yang compang-camping.

Kami kebingungan.

Ada banyak pertanyaan di kepala. Kami saling pandang. Tapi tak ada yang tahu. Semua menggeleng kepala.

*****

Lampu pemilik rumah menyala. Ustad A keluar. Dengan sigap, langsung ia piting (kunci) Uprit dengan sekali jepit. Roboh!

Terjengkang.

Menangis. Tertawa. Marah-marah.

****

Istrinya ikut keluar. Mengangsurkan sebotol air kemasan pada suaminya

Lalu byuuur!

Basah semua. Lalu semua tenang.

****

Sekejab kemudian Uprit berontak lagi. Ia terlepas. Berdiri. Lalu seolah bergaya pesilat, ia main jurus.

Tapi ia terkepung. Ia tak bisa punya banyak pilihan.

Semua murid padepokan telah siap. Beberapa tetangga Uprit pun akhirnya sampai. Ternyata sebelumnya, telah terjadi chaos di ujung timur desa. TKP pertama. Warkop ini TKP ke sekian.

Jurus diadu jurus. Satu keok.

Selain kalah ilmu. Kalah jumlah.

****

Adu ilmu berlangsung sekejab.

Mata nanar itu mulai menunjukkan sisi manusia. Ia roboh. Kelelahan.

Tubuh manusia dirasuki makhluk harus sangat rentan. Harus segera diusir entah dengan cara baik-baik atau paksa. Adu kesaktian dulu tak mengapa. Harus ada yang kalah.

Ternyata serupa tak satu. Ada tiga.

Dedel duwel. Ajur, Jum.

Setelah semua makhluk astral keluar. Uprit jatuh terjengkang. Sekian. Dlosor tak berdaya. Napas kembang-kempis. Ia hampir selesai.

****

Setelah mulai baikan. Ia bercerita segalanya.

Saya rahasiakan saja.

Intinya, ia secara tak sengaja membunuh ular kecil di lahan yang baru ia beli. Niatnya untuk bersih-bersih. Tak sengaja sabitnya memotong kepala ular hingga mati.

Di sisi alam yang lain. Beberapa genderuwo tak terima. Tiga dewasa. Satunya anak-anak. Memaksa Uprit untuk bertanggungjawab.

Uprit ketakutan. Ia seolah dipaku dengan pasak raksasa di kepala. Pusing tiada terkira. Kepala berat rasanya. Seberat gunung. Ternyata sudah tiga hari lamanya.

Sebentar sadar. Sebentar kesurupan.

Tiga hari masa kritis. Uprit tak kuat lagi. Ia seolah ingin melawan tapi tiada kuasa. Saat ia sadar, ia berusaha mencari bantuan. Ia datangi rumah tetangga. Karena ia tidak bisa menguasai dirinya. Hasilnya bisa ditebak. Beberapa pintu tetangga dedel duwel.

Heboh satu RT.

Karena ia selamat dan cari pertolongan. Ia bersepeda pancal menuju ujung barat desa. Ia bersepeda dengan kecepatan luar biasa. Separuh manusia, separuhnya makhluk halus.

Tim pengejar naik motor tetap kalah jauh.

Karena bukan manusia seutuhnya. Ia pilih jalan tak biasa. Sepeda itu masuk sawah. Terus dipacu tak kenal lelah. Sampailah ia di tembok pagar setinggi dua meter setengah. Ia seolah terbang ke atas. Tanpa menginjak tembok atas, ia sudah menghilang.

Tim pengejar naik motor merasa khawatir. Mereka ikut masuk got, lalu masuk sawah. Motor bertumbangan. Manusia kalah tenaga. Kalah kecepatan. Kalah kekuatan fisik. Begitu terlihat Uprit lombat pagar tinggi.

Pengejar putar arah. Motor ditinggalkan. Mereka pilih jalan manusia. Memutari dua rumah. Sampailah mereka di depan rumah pemilik warung.

Adegan piting-pitingan terjadi.

Selebihnya, biarlah ini tetap jadi misteri.

Saya tak bisa tidur pemirsah. Separuh kaget. Separuhnya ketakutan. Tapi inilah hidup. Kadang memang ngguapleki.

Ah, sudahlah!

Sesama makhluk Allah SWT hendaklah tidak saling menganggu. Sungguh!

Hati-hati!

Omah, 16 Mei 2019

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali