Mahfud Aly

Lelaki terkombang-kambing tulisan. ...

Selengkapnya
PENGAKUAKU 6: TRAGEDY: WHY ALWAYS ME? (1 OF 4)
Lomba hadiah 30 juta.

PENGAKUAKU 6: TRAGEDY: WHY ALWAYS ME? (1 OF 4)

Saat itu awal Agustus, kalo nggak salah tahun 2009, aku masih ganteng tiada terkira. Usia 23 tahun. Gagah-gagahnya. Belengah-blengah seperti sapi. Mhaaaa!

Ah, sebab aku jomblo menahun. Jadwalku padat gila. Jumat sore, aku harus ke UM Malang untuk hadir dalam seminar, menggantikan kepala sekolah. Ia memilih pergi ke Jakarta, daripada harus ke Malang. Amplopnya beda. Aku mengalah. Meski tak dapat pesawat terbang ya sudahlah. Toh, jatah gratisan pesawat terbangku masih banyak.

Acara selesai Minggu abis dzuhur, jadi aku pulang sama temanku, wakil kepala sekolah pakai mobil. Saat itu semua berjalan aneh. Temanku kehilangan uang di hotel, ia nggak tahu hilangnya di mana. Aku tanya detail. Ih ia marah. Aku mending diam saja.


Kami bergegas pulang, karena Senin pagi aku harus pergi lagi untuk acara yang berbeda.

Di jalan, aku kelaparan. AKu meminta izin ke temanku untuk berhenti. Mencari makan di sekitar Pasar Lawang, Malang. Aku segera masuk ke sebuah warung sate, langganank. Karena temanku ini sudah beristri, ia di-sms istrinya untum membeli beli sayur-sayuran di pasar sore Lawang.

Meski katanya ia malas, mungkin karena ia kehilangan mood tersebab uangnya hilang. Jadi ia agak uring-urungan.

Karena aku dapat uang saku dari acara, aku buka amplopku. AKu bagi dua sama rata. Aku timbang-timbang pakai kedua tangan. Ah, sama beratnya. Kagak, ding. Aku hitung. 2.100.000. Aku berikan padanya sejuta. Aku sejuta seratus. Seratus itu sebagai ongkos menghitung, menimbang dan membagi. Pakai otak soalnya. Aku kan geblek.

“Nih, sumbangan dari fakir miskin untuk anak yatim piatu.”


Ia berusaha menolak tapi apa daya karena uangnya raib semua, ia akhirnya menerima, setelah aku paksa.

*Masa bodohh harga diri. AKu biasanya kalau nggak punya uang ya aku embat uang teman-teman atau mengemis di trotoar Bundaran HI. Untung tidak ditangkan Pak Satpol PP yang gagah perkasa seperti gatotkaca.

Aku pesan sate 10 tusuk plus nasi double, *kelaparan kronis. Sementara temanku menyebrang jalan untuk menuju pasar, belanja sayur. Hihihi! Suami idaman.


Aku pakai celana bahan hitam dan atasan hem lengan pendek. Awalnya aku pakai sweater, tapi karena Malang sore itu panas, aku lepas dan aku taruh di jok mobil. Nggak ada yang aneh ‘kan dengan penampilanku. Kecuali memang akuagak bau. Maklum amndi terakhir di hotel. Jam 6 pagi, dan saat ini, sudah jam 4. Sore. What the next?


Setelah makanan aku datang. Setelah baca doa aku segera makan dengan lahap. Samar-samar aku mendengar suara original sound track di telingaku. Suara pengamen.

Kayaknya aku kenal lagunya. Tapi karena aku lagi asyik makan sate. Aku cuek saja.

Suara lagu itu semakin mendekat ke arah meja tempatku berada. Karena aku melihat ke belakang jadi aku memunggungi pengamen itu. Sambil makan, aku denger suara lagunya. Ternyata lagu dangdut yang cukup populer. Ah masa bodo, kalau selesai makan saja aku kasih uang receh.

Sambil makan, aku masih asyik ngelamun nggak jelas. Entah berapa lama pengamen itu menunggu respon dariku. 'Bang, recehnya dong.' Aku baru ingat di sakuku tidak ada uang receh. Di dompet juga nggak ada karena uang di dompet aku siapkan buat acara terbang senin pagi. Alamaak!.

Karena terlalu lalu lama, ia agak kesal. Ya wajarlah! Aku keluarkan amplop, aku ambil duit merah muda 1 lembar aku bawa ke kasir niatku sih mau tukar uang receh, paling tidak aku minta uang sepuluh ribu. Nasibku memang nasib lagi apes. Kasir bilang ia tidak ada uang kecil sama sekali.

Dengan agak gusar, aku melangkahkan kaki kea rah pengamen maunya bilang “sorry”.dan saat aku melihatnya, ah, cantik juga dia.

Dia terlihat sebal denganku.

'Yech lama banget, Ciiin. Ike nggak dapat duit dari Yey juga tak masalah. Asal ike dapat cip***k dari perjaka ting tong.''

Karena jarak kami cukup dekat, tiba-tiba saja ia mengecup pipiku.

“Emmmuuuah. Rezeki nomplok, yey.”

Aku seperti merasakan kondisi tak sadarka diri. Ada sensasi aneh yang bergejolak dalam diriku. Aku merasa paralyzed. , Tidak bisa bergerak, kaget, kesal, merasa kotor banget, Pemirsa.

Pengamen itu berlalu sambil mendendangkan lagu andalannya.

[Aku tak mau kalau aku dimadu, pulangkan saja pada orang tuaku]

Dasar b*nciii sialan! Aku lunjurkan sumpah serapah. Ia Cuma melet. Kegirangan.

Ah, sudahlah!

see ya dada!

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Hihihi...., senyum-senyum. Ayo...mandi....mandi. Salam sehat dan sukses selalu. Barakallah, Pak Guru.

11 Jan
Balas

Sudah Bunda. di kali ujung desa. bersih. Barakallah!

12 Jan

Ha..hah...segaaaaaar di tengah panasnya udara.....

11 Jan
Balas

ih, sensasinya. luar biasooo. salam hormat!

12 Jan

Memanh segerrr... Betul.. Pak guru... Penuh nuansa.. Mksh pak guru

23 Jan
Balas

Hihihi

13 Feb

Kenangan tak terlupakan ya pak... hehehe... sukses selalu dan barakallah

12 Jan
Balas

Inginnya aku lupakan. tapi ia selalu terngiang. ah, sudahlah! Ibu Yanisa. Barakallah!

12 Jan

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali