Mahfud Aly

Lelaki terkombang-kambing tulisan. ...

Selengkapnya
PENGAKUANKU 4: SISWA JUGA MANUSIA

PENGAKUANKU 4: SISWA JUGA MANUSIA

Siswa itu manusia unik. Mereka ingin didengarkan keluhannya. Diajak bekerja bersama. Terlibat dalam proyek apa saja. Mereka selalu senang terlihat sibuk. Hihi! Apalagi bekerja dengan guru seganteng aku. Hahaha!

Tapi ya tetap saja ada. Siswa luar biasa. Bandelnya. Seolah-olah di jidatnya ada tulisan berkilau-kilau 'TAMPAR AKU' hehehe!

Tapi please, jangan tampar mereka. Yang ada hanya penyesalan.

Penyesalan selalu di belakang, jika ada di depan disebut pendaftaran.

Iya, kadang aku sangat bangga pada mereka, tapi di lain waktu, jengkelku nggak ketulungan pada setan-setan (maaf) kecil ini kalau ayan mereka kumat. Gemes banget!

Nah, saat mereka ditanya pelajaran apa yang mereka suka? Jika pembaca gurunya, tentu siswa akan, menjawab, matematika, fisika, ekonomi, bahasa Jawa, PJOK, Bahasa Inggris, Jepang bahkan Mandarin. Jawaban itu muncul karena Bapak/Ibu yang bertanya.

Coba kalau aku yang bertanya, Jawaban seperti tak akan pernah muncul. Suer!

Aku: Selamat pagi, Anak-anak!

Siswa: Selamat pagi, Bapak-bapak.

Nggak enak, kan?

Aku: Baik, saya mau tanya apa pelajaran favorit kalian?

Siswa: [Teriak kencang sambil berdiri, tangan teracung]: PELAJARAN KOSOONG!

Ya, pembaca! Sudah nasibku. [Aku menangis di pojokan kelas, merasa sedih]. Mereka, siswa terlalu jujur padaku, gurunya.

Dengarlah jawaban terjujur mereka ini. Mereka memang suka bapak ibu mengajar di kelasnya, tetapi mereka akan lebih bahagia lahir batin kalo bapak ibu guru absen mengajar. Hehehe!

Makanya mereka selalu berdoa semoga setiap hari, ada rapat di kantor, jadi tidak ada pelajaran. Hihihi! [jangan diambil hati ya! Please!]

Nah, memang siswa menganggap pelajaran di kelas itu sulit, namun sesungguhnya, mereka takut dengan yang namanya UJIAN. Ujian apa saja. UH, UTS, UAS, PTS, PAS semuanya. Apalagi lagi jenis ujian praktik yang membutuhkan banyak uang. Hihihi! Jijiknya bukan main.

Nah, karena ada permintaan tulisan dari Nur Hidayatur R aka yongma, siswaku yang cerdas luar biasa untuk membuat pengakuan tema UJIAN. Maka aku coba menulisnya. PTS atau PAS adalah wahana siswa untuk mencoba hal-hal baru yg kreatif. Semboyan mereka jelas dan inovatif. ‘Posisi menentukan prestasi.' Dengan rasa sebal, aku setuju dengan mereka.

Tapi aku mendengar, mereka memiliki slogan baru. Lebih masuk akal.

'Pengawas ruang menentukan kesuksesan berkreatifitas.'

Biasanya, saat ujian atau PTS/PAS, satu ruang diisi oleh 20 ssiwa. Mereka diawasi oleh dua guru. Secara teori itu sudah masuk akal. Dua pengawas mengawasi duapuluh siswa dalam satu ruang. Masuk Pak Eko!

Tapi tunggu dulu?

Siswa jaman now adalah generasi susu formula. Mereka bukan hanya pencinta susu dengan kemasan menarik yaitu ASI (Air susu ibu). Kadang ada loh, pengawas ruang yang dianggap seperti manekin yang memakai baju batik selayak di MALL. Mereka grusak-grusuk kayak setan alas, padahal ada dua pengawas di depannya.

Nah, jenis siswa seperti ini itu kepo, ingin tahu siapa saja yang mengawasi ruang mereka. Bagaimana caranya?

Dengan seribu alasan, mereka akan berusaha bisa masuk ke ruang guru. Mereka pilih lewat depan. Matanya melirik ke information board yg terpasang daftar nama pengawas ruang. Sebagian, mereka mendekati salahs atu guru. Mereka akan menggunakan rayuan maut.

Memperdaya guru tersebut untuk memberi izin mereka melihat daftar nama pengawas ruang.

Mereka sudah punya black list pengawas yang haram masuk ruang mereka.

Mungkin nama Pak SN, guru x, dan aku termasuk dalam black list mereka. Nasibku memang Black. Huhuhu!

Nah, simak tip menarik menghadapi siswa yang unik, dan KERE.AKTIF. Makin kere, makin aktif saat ujian.

Kesan pertama begitu menggoda. Ini penting. Aku biasanya pasang tampang serem saat masuk ruang. Aku keliling ruang untuk memastikan tidak ada jampe-jampe, sihir dan segala jenis gangguan lainnya. Termasuk memastikan siswa memasukkan baju seragam.

Entah kenapa siswa memiliki keyakinan bahwa seragam yang keluar itu terlihat seksi. Sementara di mata guru dan sekolah guru, itu nggilani. Ini aturan sekolah yang telah dipaksakan untuk disepakati. Jangan tanya pendapat pribadiku. No comment.

Selanjutnya, setelah soal dan LJK dibagikan, ruangan akan senyap, tapi tidak lama. Pertunjukan dimulai.

Biasanya dalam satu ruang, ada kelas 1, 2, dan 3. (Bolehlah kau sebut 7, 8,9,10,11,12)

Nah kelas 2, dan 3, sedikit banyak tahu tahu track record-ku. Jadi mereka bermain cantik. Mereka bisa menahan diri. Sementara kelas 1. Ah mereka bertampang culun, tapi berangasan. Mereka tidak tahu hewan macam apa. Maka perhatianku terarah pada mereka.

Aku butuh kambing hitam di awal ujian, bukan di tengah apalagi di akhir, aku sudah tidak butuh lagi. Anggap aja aku butuh proyek percontohan. [Seringai culas]

Sekali ada siswa yang bertanya ke siswa lain tentang jawaban, langsung aku datangi, aku tegur, dan ekskusi langsung tanpa peringatan.

Aku minta ia mengerjakan sisa soal di depan kelas. Shock therapy yang efektif.

Intimidasi menyeluruh. Hasilnya ruang ujian senyap selayak kuburan. Yg tadinya mencontek, ia langsung bertobat. Yang tadinya mau bertanya ke kawan di depannya, ia pasang wajah sayu, manis sekali. Rasanya aku ingin ewek-ewek saja pipinya biar kapok.

Guru harus sabar. Jika kau pikir mereka sudah tidak kereaktif, kau salah.

Babak kedua dimulai. Mereka kini memakai kode rahasia selayak penjahat, pemeran antagonis dalam film-film hollywood saja.

Lirikan mata, batuk, kibasan jari, garuk-garuk kepala, bibir dimonyong-monyongkan, sepakan kaki, tangan di bawah meja, semuanya adalah tanda rahasia yang hanya bisa dipahami jin dan sebangsanya.

Karena guru juga manusia, maka tidak semua pengawas ruang, memahami bahasa kode ini. Karena aku berasal dari bangsa jin, sedikit banyak aku merasakannya. Contekan di kertas kueeciiiil, lungset, gulungan kucel berserakan di lantai, di saku, di tepak, catatan di betis, di tangan. Buku di kolong meja, loker, diduduki, ditaruh dijepit paha, di ***** (DISENSOR).

Ah, mereka itu sungguh luar biasa. Calon penemu dan pengusaha besar di masa depan. Mereka akan menerima hadiah nobel atas prestasinya. Temuannya.

Jika ada orang, guru atau siswa yang mengatakan bahwa anak IPA itu pintar, aku setuju. Tapi mereka hanya cerdas saat di ruang kelas. Saat ujian, anak IPS-lah juaranya. Entah dukun sakti mana yg mereka pakai? Aku sendiri heran.

Tapi tidak semua anak IPS begitu, hanya oknum saja. Hanya saja, jumlahnya banyak sekali. Hehehe! Oh iya, ini hanya ada di tempatku mengajar. Di tempat lain tentu tidak. Tidak sedikit, maksudnya. Hihihi!

Ah, sudahlah. Sesableng apapun siswa, guru tidak boleh menghadapi mereka dengan wajah sadis,marah atau kebencian. Siswa adalah spesies yang butuh diselamatkan.

Siswa juga manusia. Jika mereka berbuat salah, mereka tentu tidak belajar. Betul, bukan?

Aku jadi ingat iklan TV, kalau tidak berani kotor, nggak belajar. Namun jika mereka bermain kotor sepanjang tahun, lempar saja ke kawah lumpur Sidoarjo. Ikhlas aku! Hahaha!.

Sehebat apapun siswa, guru menang satu hal saja. Apa itu?

Guru pernah muda. Siswa belum pernah tua. Artinya pengalaman memberi perbedaan yang besar sekali. Sungguh!

Ah, aku selalu rindu mereka. Rindu sekali. Mengajar di kelas. Untuk menyaksikan tingkah pola mereka yang kreatif. Itu saja dulu.

Jika pembaca ingin terus mendukungku, untuk menulis kisah ini. Please belilah bukuku, “Meneliti itu Seksi,” seksi gila.

WA. 085708839871 (Alien)

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Mangtab Pak Kyai, Barokallah

09 Jan
Balas

Barakallah, Pak Ji.

09 Jan

Masyaallah, ruarrrr biasaaa. Serasa ada di dalam cerita, karena pengalaman yang sama. Namun begitu, "aku juga selalu rindu pada mereka". Aku punya cinta yang tak biasa untuk mereka. Mantul dan manji, Pak Guru Alien (namun masih tetap species manusia, nggih Pak Guru ?). Salam sehat dan sukses selalu. Barakallah.

09 Jan
Balas

Terima kasih, Ibu Haji. Iya. Saya masih termasuk spesies manusia. Hihihi. Barakallah!

09 Jan

Menulis seperti mata air yang selalu mengucurkan rangkaian kata kata. Luar biasa.... Semoga aku bisa menirunya....

12 Jan
Balas

Semangat ibu. Semangat. Ayo berjuang. Sisihkan sedikit waktu ibu Ersi. Barakallah. Silahkan lihat yang lain. Pengakuanku sudah beberapa.

12 Jan

Hihihi...mangab pak Mangfus...ups salah...maksud ane...mantapz pak Mahfud...jaga baik-baik ntuh generasi muda penerus bangsa yang sexy penuh kreativitas cerdas dan happy... oke.. sukses selalu wat pak Mahfud... ditunggu yang ke lima..

09 Jan
Balas

Selalu, ibu. Ditunggu ya!

09 Jan

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali