Mahfud Aly

Lelaki terkombang-kambing tulisan. ...

Selengkapnya
QULHU AE LEK!

QULHU AE LEK!

Mahfud Aly

Lelaki yang terkombang-kambing tulisan

****

Masjid rebutan jamaah. Musala pun sama. Terawih sepuluh hari pertama adalah tempat tingginya permintaan akan kebutuhan layanan takmir masjid dan Musala demi kenyamanan ibadah.

Masjid di desa saya itu selalu ramai jamaah. Meski istilahnya: imamnya kelas ekonomi. Pelan dan pasti. Jam 20.20 terawih baru selesai. Jamah tetap solid dan melimpah.

Musala tak mau kalah. Berbagai tawaran . mereka siapkan. Ada kelas bisnis juga VVIP. Ada imam yang shalatnya sedang dan ada yang cepat. Yang cepat, 19.35 selesai. Yang sedang 19.45 selesai.

Siapa pilih di mana itu banyak faktornya.

Jika sedang tidak bertugas, saya pilih tarawih di masjid. Nyaman, pelan, dan pasti. Ini jaminan shalat tarawih berjamaah yang indah. Untuk apa buru-buru. Toh, 20+3 itu tak lama. Satu-satu toh kelar juga. Sebagai hamba yang masih compang-camping, saya suka kelas ekonomi.

****

Nah, sudah nasib saya. Saya pun dapat tugas imam tarawih di Musala D dan N. Saat bertugas saya cenderung pilih kelas bisnis. Ah, beruntung pembaca tak berkesempatan dapat imam terawih macam saya. Suara saya sih, luar biasa. Merdu tidak, serak pun tidak. Sangat biasa.

Jamaah di Musala N itu rata-rata anak muda. Mereka itu militan. Bersemangat. Eh, pas ada waktu saya tanya pada mereka: bagaimana?

Mereka kompak menjawab.

"Kelamaan."

"Allahuakbar!"

Satu pemuda celetuk.

"Qulhu ae, Lek!'

Mereka suka patas.

Ah, mereka masih muda. Senang yang cepat dan keras. Jika saya gebyah uyah, kasihan jamaah yang tua. Bisa protol tulangnya.

Enak itu, di Musala D. Jamaahnya sepuh semua. Generasi zaman Belanda, Soekarno, dan Soeharto. Mereka kompak. Santai saja. Imam pun bisa semakin menyempurnakan bacaan. Tumakninah. Wiridan dan doa versi panjang.

Santai dan nyaman.

Fenomena ini adalah kearifan lokal di desa saya. Tetapi tetap saja, tumakninah harus dijalankan. Cepat boleh, tapi nggak ngawur. Panjang pendek bacaan, kesempurnaan gerakan, dan adab berjamaah tetap harus ditegakkan.

****

Ah, saya ingat saat di pesantren dulu. Saya kadang ikut jamaah Terawih khusus. Satu malam, satu juz. Santai sekali. Mulai jam 19.15. selesai pukul 23.00. karena ini jamaah khusus. Tokoh masyarakat dari desa banyak yang ikut. Mereka suka bawa kopi, kolak, dan aneka rupa buah.

Selesai Terawih, saatnya perbaikan gizi.

Saya kok ingin di desa saya ada yang mendirikan jamaah tarawih begitu. Saya penasaran: berapa jumlah penumpangnya?

Hihihi!

*****

Terima kasih, Ramadan. Kau telah membuat semarak desa ini. Tanpamu, semua sepi.

Eaaa!

Ah, sudahlah!

Tinaro, 8 Mei 2019

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Favoritku: Lek Amat. Tiga Qulhu. Tertib, lancar dan khusyuk.

08 May
Balas

Kalau saya dan jamaah pilih yg patas 23 rekaat plus kultum 19.40 kelar

08 May

Hihihi

08 May

Abah Syaihu: josss. Hihihi

08 May

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali