Mahfud Aly

Lelaki terkombang-kambing tulisan. ...

Selengkapnya
[RESENSI] ARUNIKA SANG DWIJA: Catatan Kaki Penyunting
Guru, kehadirannya selalu dirindukan. Foto: Siswa SDN 1 Sungkung yang viral di Instagram

[RESENSI] ARUNIKA SANG DWIJA: Catatan Kaki Penyunting

Judul Buku : ARUNIKA SANG DWIJA (Antologi Puisi)

Penulis: Murman, Slamet Trihartanto, Mahfud Aly, dkk.

Editor: Lelaki terkombang-kambing tulisan

Saya mlongo. Terkagum-kagum. Saya tidak menyangka. Sungguh! Saya tak habis pikir. Jangan-jangan banyak sastrawan bersembunyi di sekolah-sekolah. SDN Inpres. SMP Satap. SMA di pulau-pulau. Tertimbun rutinitas. Mereka sebenarnya penyair. Tetapi mereka belum mendapatkan panggung: puisi. Jika ini benar, saya sungguh merasa berdosa. Media Guru harus terus berdaya upaya, menjemput mereka. Mengulurkan tangan agar mereka dapat memeluk mimpi: menulis buku.

Terima kasih kepada Profesor saya, Murman. Kepala Sekolah yang inspiratif. Karena kerja lillah-nya, buku antologi ‘Aruna Sang Dwija,” ini bisa lahir. Sua penikmatnya. Karena hasratnya yang menggunung, penyebaran virus literasi makin meluas cakrawala. Ia merela diri bersusah payah mengumpulkan puisi-puisi indah dalam buku ini. Tanpa Allah menyertai dan tanpa usaha lillah-nya, buku antologi hanya mimpi.

Di tengah kesibukan, saya mulai mengurasi sedikitnya 107 penyair dari seluruh Indonesia. Meraka berasal dari Riau, Aceh, Bukittinggi, Jakarta, Bandung, Purbalingga, Grobogan, Kudus, Demak, Semarang, Tuban, Surabaya, Tulungagung, Madura dan, Agam, Tanggamus Lampung. Sago Halaban, Lima Puluh Kota. Sumatera Barat. Serta banyak daerah lainnya.

Mereka umumnya guru, tapi tak semua. Ada widyaiswara, ada ibu rumah tangga dan pegiat sastra. Empat jempol untuk mereka. Bisa membersamai mereka adalah anugerah terindah. Eh, saya katakan: saya merasa terhormat diajak sebuku dengan para pemuisi hebat yang tiada duanya. Barakallah!

Ah, penyair Indonesia. Ragam budaya etnik semakin kental dalam pilihan diksinya. Mereka itu serupa rempah. Kuat di rasa. Menghangatkan. Aromanya sungguh menggoda. Indonesia adalah surga. Puisi dalam buku ini adalah keindahan yang tiada duanya.

Ada lebih dari 107 puisi dengan tema, 'tahun baru.' Dua kata, sejuta pesona. Dua kata, sejuta makna. Penyair dalam buku ini sangat cerdas. Mereka liar dan nakal. Mengolah tema dengan cerdik menjadi kaya rasa dan liat dalam pemilihan kata.

Diksi mereka kaya nuansa. Fakta ini membuktikan satu hal saja. Guru penulis ini pembaca yang tangguh. Pegiat literasi yang istikamah. Mereka serius menulis puisi. Mereka hadirkan roh dalam puisi mereka. Mengagumkan! Mari saya ajak membaca satu puisi karya Megawati berjudul 'Untuk Kuperbaiki."

Hari demi hari kulewati

Beribu langkah telah kutapaki

Tempat demi tempat kusinggahi

Tapi tak ada yang pasti

Rimanya cantik. Pesannya sangat kontemplatif. Ada kesadaran untuk menunduk. Pasrah setelah berusaha. Tawakal setelah berikhtiar maksimal. Ia terima takdir hidupnya. Ia mengharapkan yang terbaik tapi ia siap menerima yang terburuk. Saya angkat topi untuknya. Ia memang layak menerima penghormatan itu.

Saya lanjutkan membaca. Puisi berjudul 'Raih Bintang,' karya Ratna Dewi Sartika. Saya baca bait pembuka.

Pergilah kau gundah

Enyahlah kau resah

Terbangkan kau duka

Empaskan keluh-kesah

Secara umum, puisi ini begitu agung. Ia bicara keseharian. Tetapi diksi yang ia pilih sungguh menawan. Ia mengubah rutinitas menjadi puisi yang bernas. Ia memainkan rasa dengan bermain rasa dan dinamika. Saya sungguh takjub dan bangga.

Selanjutnya, saya ajak untuk menengok puisi berjudul “Memasuki Gerbang Waktu” karya Slamet Trihartanto.

Ayo bergerak serentak

Melompat bersama dan melangkah tegap

Memasuki gerbang waktu

Menyambut pasti mentari pagi tahun baru

Dada saya tiba-tiba bergemuruh badai. Saya segera bergegas untuk melangkah. Saya seolah dibakar semangat. Tegap dan siap. Menyongsong masa depan. Melangkah ke gerbang emas yang berdiri gagah. Menyambut matahari pertama tahun baru. Puisi ini menawarkan optimisme dan energi yang positif. Ia menggugah gairah. Ia mengajak pembaca untuk turut serta menuju kehidupan yang gilang gemilang di masa mendatang.

Ah, akhirnya saya harus mengakui. Guru benar-benar bisa menulis. Sejujurnya, saya tak percaya pada awalnya. Tetapi membaca antologi puisi ini, “Aruna Sang Dwija,” saya akui mereka luar biasa. Guru adalah aset bangsa. Dengan kenyataan ini, optimisme saya bangkit. Masa depan sastra Indonesia akan cerah. Saya titipkan sastrawan-sastrawati muda di sekolah kepada kalian semua. Ah, senang hati saya. Selamat dan mohon maaf kiranya.

Omah Kopi, 11 Januari 2019

Mahfud Aly, lelaki yang terkombang-kambing oleh tulisan. Ia suka dipanggil ‘pemuja sastra sepintas lalu.' Salah satu cerpennya, ‘Taman Surga,’ meraih juara nasional Lomba Menulis Cerita Pendek (LMCP) kemendikbud (2010). Ia bekerja sebagai editor Media Guru. Ia tinggal di Lamongan.


DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

MasyaAllah paaaakkk.....aku luluh dalam alunan merdu kata-katamu weleh g nyambung ni...... Pak Aly tuop puol pokoknyaaa... terimakasih udah diijinkan sll menyimak tulisan2 bpk yg aduhai hingga prlita literasi itu tak hendak pafam di hati dan jiwa ini. Ea

05 Feb
Balas

Barakallah. Bunda Lestari Ambar. Barakallah. Saya hanya remekan rengginang. Hihihi. Kurang gizi.

05 Feb

MasyaAllah paaaakkk.....aku luluh dalam alunan merdu kata-katamu weleh g nyambung ni...... Pak Aly tuop puol pokoknyaaa... terimakasih udah diijinkan sll menyimak tulisan2 bpk yg aduhai hingga pelita literasi itu tak hendak padam di hati dan jiwa ini. Ea

05 Feb
Balas

Barakallah. Bunda Lestari. Bismillah.

06 Feb

Keren...

05 Feb
Balas

Barakallah. Bunda pujaan hati Literasi. Bunda Emi Priyanti. Sehat selalu.

05 Feb

Bahasa apa lagi ini saya terkombang kambing kosa kata Si Alien yang luar biasa, yang jelas bukan teroris

05 Feb
Balas

Terima kasih. Pak Kiai Syaihu. Barakallah. Saya itu: tersipu sapi. Terunyu penyu. Terkombang-kambing tulisan.

05 Feb

Manjiww Pak Aly..Sang Jawara yang masih merasa terkombang kambing, apalagi kami si remahan peyek...hiks.....barakallah

03 Feb
Balas

Barakallah. Bunda Marlupi. Saya remekan rengginang. Bunda itu Seniorita. Keren menewen.

03 Feb

Kereen..judulnya di revisi ya pak..Arunika jadi Aruna???

05 Feb
Balas

Done. Bunda Artis.

05 Feb

Subhanallah, sungguh luar biasa para guru di berbagai daerah, begitu banyak karya yang memukau, dan ternyata lebih luar biasa Pak Guru satu ini, yang dengan paparan luar biasa memperkenalkan karya para guru yang luar biasa itu. Sukses selalu dan barakallah

03 Feb
Balas

Barakallah. Bunda. You are inspiring. Sadakta!

03 Feb

Keren! Selamat atas terbitnya buku baru bapak editor hebat. Makin sukses pak. Barakallah. Ehh nanti kalau buat antalogi lagi ajak-ajak saya yaa pak

03 Feb
Balas

Siap gerak! Barakallah.

03 Feb

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali